INDONESIA DIMINTA TIDAK TERGANTUNG DENGAN GSP

Cinque Terre

INDONESIA DIMINTA TIDAK TERGANTUNG DENGAN GSP

Indonesia diyakini memiliki modal yang kuat untuk bisa mempertahankan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP), setelah mendapatkan dukungan dari para importir AS

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengklaim telah menggalang dukungan dari importir Negeri Paman Sam untuk melobi Washington, sebagai upaya mengamankan akses pasar produk RI di Negeri Paman Sam. Di sela-sela kunjungan ke AS untuk negoisasi eligibilitas GSP pekan ini. Enggar mengajak para importir komoditas Indonesia di AS untuk turut mencari solusi atas peninjauan ualang GSP serta masalah kenaikan impor  baja dan aluminium dari Tanah Air. Indonesia berharap hasil peninjauan ulang GSP tidak mengganggu ekspor Indonesia ke AS dan tidak memberikan dampak pada industri domestik AS, yang selama ini memanfaatkan skema GSP ,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi Kemendag selasa (24/7). Menurutnya, industri kelas menengah AS membutuhkan skema GSP untuk menunjang bisnis mereka. Jika GSP untuk Indonesia dicabut, para importir produk RI di AS akan kesulitan memasok bahan baku yang pada akhirnya bisa mengganggu  pertumbuhan industri domestik AS.

   Seperti diketahui produk Indonesia yang masuk ke dalam  daftar komoditas penerima GSP a.l ban karet, perlengkapan perkabelan kendaraan, emas, asam lemak, perhiasan logam, aluminium, sarung tangan, peralatan musik, pengeras suara, keyboard an batere. Untuk itu, Mendag berupaya melobi otoritas perdagangan AS agar mau menurunkan bea masuk  baja (25%) dan aluminium (10%). Upaya itu diapresiasi oleh para produsen baja Tanah Air. Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan jika bea masuk impor AS diturunkan, industri besi dan baja dalam negeri akan mengantongi insentif yang menarik.

  Meskipun aktifitas ekspor baja  dan aluminium Indonesia ke AS relatif terbatas, kebijakan itu ( jika bea masuk baja dan aluminium dihapuskan) akan membuat pangsa pasar produk baja dan aluminium semakin luas.,” tuturnya.  Dia memaparkanekspor besi baja ke AS pada 2017 bernilai US$112,7 juta atau hanya 0,3% pangsa pasar ke AS. Menurutnya, nilai yang sedikit itu disebabkan oleh penerpan  bea masuk antidumping dan caountervailing duty yang sudah berlangsung cukup lama. Sementara itu, ekspor aluminium ke AS tahun lalu tercatat sejumlah US$212 juta dan pangsa pasarnya mencapai 1,2%. Bagi indonesia, nilai ekspor tersebut berkonntribusi terhadap 50% ekspor aluminium Indonesia ke dunua.

  Respon senada diutarakan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Rosan P. Roeslani. Dia mengapresiasi upaya pemerintah untuk menggalang dukungan dari kalangan importir AS. Kami mengapresiasi langkah pemerintah. Di sisi lain, kam pun sudah memiliki optimisme yang tinggi, fasilitas GSP ini akan dapat dipertaruhkan di Indonesia, karena hubungan kedua negara ini sangat baik. Dia mengungkapkan sebenarnya dorongan untuk mencabut fasilitas GSP bagi Indonesiaditeriakkan oleh pelaku farmasi AS. (BISNIS indonesia, Rabu, 25 Juli 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved