INDUSTRI BAJA DALAM NEGERI SEMAKIN TERJEPIT

Cinque Terre

INDUSTRI BAJA DALAM NEGERI SEMAKIN TERJEPIT

Banjir impor baja asal Tiongkok belum surut, hal ini pula yang menyebabkan pasar baja domestik semakin terdesak.

Data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) memperlihatkan, ekspor baja China ke Indonesia pada kuartal 1-2018 menguat 59% year on year (yoy) menjadi 250.783 metrik ton. Di periode yang sama, eksport baja tiongkok ke negara ASEAN lainnya justru  menyusul (lihat tabel). Folume impor baja paduan Tiongkok di enam negara (ASEAN) turun signifikan karena saat ini Tiongkok memangkas kapasitas produksi,” ujar Roy dalam keterangan persnya, Senin (2/7). Mesti secara umum turun signifikan , impor baja Tiongkok di Indonesia justru melonjak.  Ada dugaan, sebagian besar produk baja impor itu masuk Indonesia dengan cara unfair trade. Salah satunya dengan penyalahgunaan kategori pos tarif baja paduan.

  Roy mengatakan, kenaikan  volume impor baja paduan mengindikasikan  masih ada praktek circumvention oleh eksportir Tiongkok. Selain itu, kebijakan pemerintah menghapus ketentuan pertimbangan teknis melalui Permendag 22/2018 dinilai berdampak pada industri baja dalam negeri. Sebab, saat ini semakin mudah mengimpor baja. Impor asal Tiongkok didominasi produk baja hot rolled coil, plate, cold rolled coil, section dan wire rod. Di produk section dan plate, ada penurunan volume impor baja paduan  di negara ASEAN, kecuali Indonesia dan Malaysia. Dalam kasus Malaysia, negara jiran ini impor produk  baja memang tinggi  akibat produsen lokalnya berhenti beroperasi sejak Agustus 2016

  Ini beebeda dengan Indonesia, dimana banyak produsen baja lokal beroperasi. Roy pun menoroti temuan puluhan ribu ton produk baja HRC murah yang beredar di wilayah Jawa Timur dan Banten. Berdasarkan label produk yang melekat pada coil, diduga barang tersebut berasal dari PT Indonesia Guang Cing Nickel and Stainless Steel Industry, yang merupakan group perusahaan Tsing Shan, asal tiongkok. Pada label tersebut juga tidak ditemukan adanya logo SNI maupun keterangan Nomor Registrasi Produk (NRP). Sebagaimana diketahui bahwa lokasi pabrik PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry sendiri berada di Morowali, Sulawesi Tengah.

  Menurut Roy, hal ini menjadi indikasi baru, produk baja tanpa label SNI dan NRPMbisa bebas beredar dan luput dari pengawasan pihak berwenang. Alhasil, kasus ini telah menciptakan persoalan baru di tengah-tengah kesulitan yang dialami produsen baja domestik yang dihimpit baja impor murah. Ketua Umum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia /The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengemukakan, perlu penangan yang menyeluruh untuk mengatasi membanjirnya produk baja impor ke dalam negeri. Bila bergantung pada penerapan bea masuk, akan sia-sia. Soalnya, tiga negara importir besar, yakni China, Jepang dan Korea Selatan memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia. (KONTAN Selasa, 3 Juli 2018) Sal-Sekretariat IISIA

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved