KERJA SAMA DI ASEAN MENGGAGAS BLOK PRODUSEN BAJA

Cinque Terre

KERJA SAMA DI ASEAN MENGGAGAS BLOK PRODUSEN BAJA

Pemerintah mendorong kolaborasi bisnis baja antar negara di Asia Tenggara untuk mendorong penguatan aliansi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan kerja sama negara-negara di Asia Tenggara atau Asean memiliki perjanjian dagang dengan bea masuk 0%. Kerja sama di wilayah ini dengan membentuk Asean value chains akan menempatkan kawasan ini menjadi blok produsen baja ketiga terbesar di Asia setelah China dan India. Maka efisiensi akan terbangun. Kami harapkan forum ini ( The South East Asia Iron and Steel Institute/SEAISI 2018 Conference and Exhibition) menjadi jembatan,” kata Airlangga, Senin (25/6).  Dia mengingatkan produsen baja di kawasan harus mengantisipasi kelebihan kapasitas baja global yang mengalami surplus terhadap kapasitas  produksi hingga 700 juta  metrik ton pada tahun lalu. Pada tahun 2017,  produsksi crude steel secara  global mencapai 1,7 miliar ton, hampir separuhnya berasal dari China. Sementara itu, Asia Tenggara menghasilkan 1,5%.

  Pada kesempatan yang sama, Chairman Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Mas Wgrantoro Roes Setiyadi menuturkan dalam pertemuan  antar pengusaha baja di negara Asean kali ini akan berlangsung banyak pertemuan  antar negara yang diharapkan mampu membangun kerangka kerja intregrasi bisnis di kawasan. Poin ( yang ingin kami wujudkan) di Asean akan ada semacam common policy, general principle yang diadopsi oleh negara Asean. Pencapaian kesepakatan bersama ini juga dapat menjadi cara untuk mengatasi ancaman membanjirnya baja murah dari China dan mewujudkan kerangka bisnis terintegrasi . Ini sudah dibahas di early meeting,” kata Mas Wigrantoro.

  Sementara itu, Ashish Anupam, Chairman of ASEAN, menyampaikan integrasi dan kolaborasi bisnis dalam kawasan akan membuat Asean menjadi kekuatan yang lebih diperhitungkan. Nilai bisnisnya mencapai US$75 miliar. Nilainya terbesar ketiga sampai ke empat di dunia.  Sementara itu, terkait memanasnya perang tarif baja antara China dan Amerika Serikat (AS), Menteri Airlangga mengatakan Indonesia akan mengambil langkah yang sama. Kalau AS jaga pasarnya, maka kita harus jaga pasar. Kalau AS memproteksi ( dengan menerapkan bea masuk 25% untuk baja impor) lalu kita tidak memproteksi (pasar Indonesia) maka kita lebih liberal dari AS,”kata Airlangga.

  Pemerintah akan mengambil langkah perlindungan untuk pasar domestik yang paling efektif. Prinsip kehati-hatian juga akan dikedepankan agar tidak menabrak prinsip yang digariskan oleh WTO. Sementara itu, Mas Wigrantoro berharap penyelesaian baja impor murah tidak hanya sebatas pengenaan antidumping. Dia mengingatkan mitra utama pembeli baja Indonesia yakni Jepang, Korea Selatan dan Asean memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia dengan tarif 0%. Adapun dengan AS, ekspor Indonesia relatif sangat kecil yakni berkisar 400 ton sehingga tidak terlalu berdampak ke bisnis. Apalagi banyak pengalihan kode HS yang dilakukan oleh eksportir dari China yang memukul  industri hulu karena memasukkan baja dengan harga murah ke Indonesia.

  Kami harapkan pemerintah memasang perlindungan di depan. Preventif  jika antidumping diberlakukan, mereka sudah mendapatkan perlindungan di dalam negerinya melalui fasilitas pengembalian pajak atas ekspor. Lalu mereka alihkan produknya ke kode HS dengan bea masuk 0%. Mas Wigrantoro berharap pengendalian kebutuhan ini dapat dimulai dengan ketentuan adanya pertimbangan teknis dari Kementerian Perindustrian atas produk yang diimpor. Sehingga yang diimpor hanya produk yang tidak kami produksi. Kementerian Perindustrian mencacat kebutuhan crude steel (baja kasar) nasional saat ini hampir mencapai 14 juta ton. Angka kebutuhan itu melampaui produksi crude steel dalam negeri yang baru mencapai 8 juta ton hingga 9 juta ton per tahun. Industri banyak mendapatkan baja kasar dari China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India, dan berbagai negera lain. ( Bisnis Indonesia Selasa, 26 Juni 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved