MODUS IMPOR BAJA ILEGAL KIAN BERAGAM

Cinque Terre

MODUS IMPOR BAJA ILEGAL KIAN BERAGAM

Imbas perang dagang atau trade war yang dipantik oleh Amerika Serikat (AS) dan China sudah mulai terasa di dalam negeri. Salah satu sektor yang rentan terhadap situasi ini adalah industri baja dalam

Imbas perang dagang  atau trade war yang dipantik oleh Amerika Serikat  (AS) dan China sudah mulai terasa di dalam negeri. Salah satu sektor yang rentan terhadap situasi ini adalah industri baja dalam negeri. Pasca pemerintahan AS merencanakan menerapkan bea masuk produk baja sebesar 25% dan aluminium 10% di awal tahun 2018. Indonesia kebanjiran produk -produk baja. Terutama dari tiongkok, Jepang dan Korea Selatan. Berbagai modus  impor baja dilakukan. Salah satunya dengan cara memanipulasi nomor harmonized system (HS) produk baja dari semula baja karbon  (carbon steel) menjadi baja paduan (alloy steel).

Baja paduan ini adalah baja yang dicampur unsur boron (Br) dengan jumlah sekitar 0,008%. Biasanya dipakai untuk kepentingan industri ototmotif. Langkah ini juga mengelabui, tujuannya supaya tarif bea masuk 0%. Melihat situasi ini , pemangku kepentingan terkait telah menyiapkan berbagai langkah untuk menangkal dampak yang merugikan bagi industri dalam negeri. Salah satu instrumen yang menjadi kajian adalah penerapan bea masuk anti dumping. Menteri Perindustrian Airlangga Hartato mengatakan, implementasi instrumen pengamanan perdagangan ini sangat tergantung dari inisiatif asosiasi terkait, tergantung asosiasi, karena ini harus sesuai  dengan praktis yang tidak menyalahi World Trade Organization (WTO),” kata Airlangga, Senin (25/6).

Penerapan bea masuk yang tinggi akan membuat produsen baja yang selama ini menyuplai ke AS beralih ke Indonesia. Apalagi, kebutuhan baja di dalam negeri masih besar seiring maraknya proyek infrastruktur. Mengutip data Kementerian Perindustrian  (Kemenperin) kebutuhan crude steel ( baja kasar) nasional saat ini hampir mencapai 14 juta ton. Suplai domestik hanya sebanyak 8-juta-9 juta ton per tahun. Impor crude steel kebanyakan dari China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan India.

Ketua  Umum Asosiasi Industri  Besi dan Baja Indonesia Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, perlu penanganan yang menyeluruh untuk mengatasi membanjirnya produk baja ke dalam negeri. Bila tergantung pada penerapan  bea masuk aja, akan sia-sia. Soalnya, tiga negara importir terbesar  yakni China, Jepang dan Korea Selatan telah memiliki perjanjian perdagangan  bebas dengan Indonesia. Kami memerlukam  penanganan preventif,” kata Mas Wigrantoro. Apalagi Pemerintah China memberikan insentif ekspor (tax rebate) sebesar 13%. Tentu hal ini akan sangat sulit  bagi industri baja manapun di seluruh negara bersaing. Menurut Mas Wigrantoro kebijakan ideal untuk menangkal banjirnya impor baja  ke pasar dalam negeri adalah mengembalikan kewenangan Kemenperin sebagai pemberi pertimbangan teknis impor. ( KONTAN Selasa, 26 Juni 2018 ) SAL-Sekretariat IISIA.

 

 

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved