LIMBAH BAJA UNTUK BAHAN CAMPURAN MATERIAL JALAN.

Cinque Terre

LIMBAH BAJA UNTUK BAHAN CAMPURAN MATERIAL JALAN.

Uji Coba Slag Perlu dipercepat..

Produsen baja berupaya agar uji coba penggunaan slag sebagai bahan campuran material pembangunan jalan dapat segera dimulai. Ismail Mandry, Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia ( The Indonesian Iron and Steel  Industry Association/IISIA), mengatakan saat ini slag baja sebagai bahan agregat jalan terlambat masuk ke pedoman bagi para kontraktor. Penyebabnya adalah Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat tidak dapat mengubah  material apa yang akan digunakan sebagai agregat jalan  saat tender sudah berlangsung. Sudah terlambat untuk proyek tahun anggaran 2018, semoga bisa masuk secepanya nanti. Sekarang kami melakukan  pendekatan ke Kementerian PUPR  dan kontraktor supaya bisa diuji coba penerapannya,” ujar Ismail, Kamis (17/5).

  Pelaku industri baja berharap uji coba slag baja untuk bahan agregat jalan akan mendorong minat kontraktor untuk menggunakan limbah produksi baja tersebut sebagai pengganti batu alam.  Apalagi, harga slag baja lebih murah dibandingkan dengan batu alam sebagai agregat jalan Ismail menyatakan pihaknya berharap slag baja setidaknya bisa diuji coba penerapannya untuk jalan sepanjang 0,5 km hingga 1 km. Kami fokus ke jalan-jalan di daerah Banten karena yang siap memasok slag baja kan Krakatau Posco, pabriknya di Cilegon,” kata Ismail.

  Adapun, pada tahun, pemerintah menerbitkan SNI terkait slag baja, yaitu SNI 8378.2017 mengenai Spesifikasi Lapis Pondasi dan Bawah . Menggunakan Slag dan SNI 8379:2017 mengenai Spesifikasi Material Pilihan (Selected Material) Menggunakan Slag Untuk Kontruksi Jalan. SNI ini terbit setelah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK) bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, IISIA dan kalangan akademisi melakukan penelitian beberapa tahun terakhir.

  Sebelum SNI tersebut terbit, para pelaku industri baja dibayangi ketakutan melanggal hukum terkait pengelolaan slag  karena material ini dianggap sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3). Produsen menimbun atau mengangkut slag baja ke tempat penampungan. Pemerintah jjuga dianggap tidak memberikan jalan keluar mengenai pengelolaan slag .  Setelah SNI terbit , selain mendapatkan jalan keluar mengelai pengelolaan slag, produsen baja juga bepotensi mendapatkan pemasukan dari penjualan slag sebagai bahan agregat pembangunan jalan.

  Dari 195 perusahaan yang menjadi anggota IISIA, sebanyak 39 perusahaan menghasilkan slag baja dari proses produksi. DI Indonesia, pada tahun lalu industri bajameng menghasilkan sebanyak 1,62 juta ton slag baja. Ketika aturan SNI belum dirilis,produsen baja yang berinvestasi untuk mengolah slag baja menjadi agregat pembangunan jalan harus mengajukan izin ke pemerintah melalui Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan ( KLHK). Setelah slag memenuhi SNI, penggunaan selanjutnya tidak perlu lagi memerlukan izin dari KLKH. Hingga saat ini, baru satu perusahaan baja, yaitu PT Krakatau Posco yang memiliki izin pengolahan slag. Penggunaan slag baja untuk bahan agregat pembangunan jalan ditujukan untuk jalan provinsi, jalan kabupaten kota. Pasokan slag baja untuk bahan pembangunan jalan akan aman mengingat fasilitas produksi blast furnace yang dimiliki produsen bajamasih akan beroperasi selama 15 tahun. (Bisnis Indonesia Jum”at 18 Mei 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved