EKSPOR BAJA MELONJAK 1.500%

Cinque Terre

EKSPOR BAJA MELONJAK 1.500%

Kinerja ekspor besi dan baja ke Amerika Serikat sepanjang Maret meningkat signifikan lebih dari 1.500%. Indikasi sementara kenaikan ekspor tersebut berkaitan dengan kebijakan dagang Presiden Donald Tr

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan ekspor besi dan baja ke Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan yang signifikan  dari segi nilai, yakni dari US$2,13 juta pada Februari menjadi US$35 juta pada Maret. Untuk ekspor besi dan baja. Walaupum nilai ekspornya tidak terlalu besar, tetapi peningkatan secara nilai terlihat yang palimg tinggi,” ujar Suhariyanto Senin ( 16/4).  Kendati demikian, dia belum dapat memastikan apakah peningkatan ekspor  besi dan baja ke Amerika Serikat  yang cukup tajam ini merupakan dampak dari perang dagang antara AS dan China.  Menurutnya, perlu melihat trend ekspor besi dan baja pada bulan – bulan berikutnya untuk mengambil ksesimpulan  yang akurat.

  Bisa saja ini menjadi indikasi karena  setelah Pemerintah Amerika Serikat menerapkan bea masuk untuk impor baja dari China, ekspor Indonesia justru meningkat,’kata Suhariyanto. Pada 23 Maret, pemerintas AS mengenakan tarif 25% atas impor baja dan 10 % atas impor aluminium. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia ( The Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) Hidayat Triseputro memperkirakan kenaikan ekspor besi dan baja ke AS tersebut kemungkinan besar terkait dengan kebijakan dagang Donald Trump. Pemesanan produk baja hingga delivey memerlukan waktu sekitar 3 bulan. Kemungkinan besar, importir di sana sudah mengantisipasi policy Trump,” ujar Hidayat, Senin (16/4). Dia tak mengungkapkan secara pasti  jenis baja yang diekspor Indonesia ke AS. Namun, menurut Hidayat, produk baja utama atau baja karbon, seperti baja canai pabas(hot rolled coil/HRC) dan baja canai dingin ( cold rolled coil/CRC) Indonesia adalah dua produk  yang dikenai kebijakan antidumping di AS. Oleh karena itu, Hidayat memperkirakan, pendorong ekspor besi dan baja ke AS bukan produk baja utama.

  Purwono Widodo, Ketua Claster Flat Product, menyatakan kemungkinan peningkatan  ekspor tersebut didorong oleh produk baja nirkarat atau stainless steel, bukan baja karbon. Untuk karbon steel, yang banyak diekspor adalah plate, terutama dari Krakatau Posco dan Gunung Garuda, selain itu ada juga HRC Krakatau Steel, tetapi tidak diekspor ke Amerika Serikat. Menurut data BPS, ekspor besi dan baja Indonesia secara keseluruhan pada Maret 2018 tumbuh  64,94% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dengan nilai ekspor US$532,58 juta. Secara kumulatif, sepanjang kuartal I/2018, nilai ekspor besidan baja tercatat US$1,25 milliar atau naik 125,11% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ekspor besi dan baja yang naik fantastis ini menjadi angin segar ditengah problem  industri baja Masional saat ini. Purwono sebelumnya mengungkapkan industri baja di Tanah Air belum berkembang maksimal karena belum ditemukannya  industri penyerap utama baja.

  Di wilayah Asia Tenggara, produksi baja nasional juga masih kalah dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand. Padahal sebelum krisis moneter 1997/1998, Indonesia memimpin pasar ASEAN. Purwono mencontohkan saat ini Vietnam bisa memproduksi baja sekitar 22 juta ton per tahun dengan sektor konstruksi sebagai penyerap utama.Adapun negara Asia lain , sperti Jepang dan Korea Selatan , memiliki sektor pendorong dari otomotif dan galangan kapal. Sektor otomotif sebenarnya punya potensi, tetapi dipasar domestik agak menurun. Galangan kapal juga belum bisa jadi pendorong  karena sistemnya masih menunggu pesanan, bukan untuk diekspor. Menurutnya, kunci pendorong industri baja adalah permintaan yang berkelanjutan atau tidak berhenti setelah proyekrampung. ( Bisnis Indonesia  Selasa, 17 April 2017) Sal-Sekretariat IISIA.   

 

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved