INDUSTRI BAJA DOMESTIK BELUM BERDAMPAK KEBIJAKAN CHINA

Cinque Terre

INDUSTRI BAJA DOMESTIK BELUM BERDAMPAK KEBIJAKAN CHINA

Perang Dagang atau trade war antara Amerika Serikat (AS) dengan China makin meruncing,

Perang Dagang atau trade war antara Amerika Serikat (AS) dengan China makin meruncing. Setelah Presiden AS Donald Trump meneken aturan tentang peningkatan bea masuk (BM) terhadap baja akan sebesar 25% dan aluminium 10% diawal Maret, kini giliran China melakukan tindakan balasan. Awal April ini , Pemerintah China melawan dengan memberlakukan pengenaan tarif yang cukup tinggi untuk 128 produk.Oleh karena karenanya, perlu stategi yang dilakukan supaya industri lokal tidak terpengaruh perang dagang kedua negara ini.Salah satunya menggenjot penjualan ekspor produk ke pasar non tradisional, seperti Timur Tengah dan Afrika. 

Belum berimbasnya aksi balasan pemerintah China terhadap kebijakan AS juga diutarakan oleh pelaku industri baja dalam negeri. Purwono Widodo, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), mengatakan balasan China terhadap produk AS itu tidak ada dampaknya ke Industri baja nasional. Menurut Purwono, industri baja tanah air lebih merasakan dampak dari kebijakan pemerintah AS yang memberlakukan kenaikan bea masuk baja di awal Maret lalu. Dengan saling membalas ini artinya memang sudah terjadi perang dagang," jelas Purwono. Saat ini, posisi industri baja lokal kian terjepit karena Uni Eropa sudah mulai bersiap mengamankan diri dengan memberlakukan safeguard terhadap impor baja dari Indonesia. Umumnya tiap negara akan mengamankan kepentingan domestik masing-masing. Makanya kami sangat berharap kepada pemerintah untuk melakukan pengamanan terhadap industri baja domestik," kata Purwono.

Andry Asmoro, Ekonom BankMandiri mengatakan, bagi Indonesia perang dagang AS dan China tidak akan berdampak besar jika kenaikan tarif yang diterapkan bukan merupakan produk yang di ekspor ke dua negara itu. Sementara, Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sunny Iskandar mengatakan, kebijakan impor yang diterapkan oleh AS dan China tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk fokus mengembangkan produk andalan. (KONTAN Selasa, 3 April 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved