KEMENDAG SURATI KEMENPERIN TERKAIT BMAD

Cinque Terre

KEMENDAG SURATI KEMENPERIN TERKAIT BMAD

Kementerian Perdagangan telah melayangkan surat ke Kementerian Perindustrian terkait rencana pengenaan bea masuk anting dumping produk baja dan aluminium.

Kementerian Perdagangan telah melayangkan surat ke Kementerian Perindustrian terkait rencana pengenaan bea masuk anting dumping produk baja dan aluminium. Langkah tersebut dilakukan untuk menangkal kemungkinan membanjirnya impor dua komonditas tersebut ke dalam negeri, setelah Amerika Serikat (AS) menetapkan bea masuk sebesar 25% untuk baja dan 10 untuk aluminium. Sudah kami kirim surat  ke Kemenperin,’ kata Enggar di Gedung Kemenko Perekonomian, Rabu (7/3). Kemendag telah mengirimkan surat resmi kepada Kemenperin untuk merumuskan sekaligus merekomendasikan aturan bea masuk anti dumping (BMAD) dua komoditas itu. Menteri Perindustrian yaang akan menentukan anti dumping, ini sedang diproses,’kata Enggar.

  Sementara itu terkait kebijakan AS untuk impor produk baja dan aluminium, Enggar mengatakan keputusan itu akan membuat negara  ekspotir  baja mencari pasar baru.. Salah satu yang dikhawatirkan Enggar adalah membanjirnya produk baja dan aluminium dari China ke Indonesia. Apalagi, negara tersebut  merupakan produsen terbesar baja  di dunia  dengan jumlah produksi mencapai 831,7 juta metrik ton. Kemendag mengatakan pemerintah meski mengambil sikat hati-hati untuk mencegah kemingkinan  berlipatgandanya pasokan baja dan aluminium dari negara lain, terutama China. Kemendag juga akan melakukan kerja sama dengan Bea Cukai untuk memperketat proses pemeriksaan masuknya produk impor dua komonditas tersebut.

  Meski begitu, rencana pengenaan BMAD memicu pro kontra dari sejumlah pelaku industri. Kalau saya kenakan bea masuk ( baja  dan Aluminium), industri hilir protes, kalau tidak dilakukan bea masuk, maka industri hulu yang protes,” kata Enggar. Dia mengemukakan pembahasan terkait rencana pengenaan BMAD pada impor baja dan aluminium. Juga sudah dilakukan di tingkat Eselon satu disejumlah kementerian terkait. Badan Kebijakan Fiskal (BKF) juga akan membantu merumuskan kebijakan terkait BMAD.

  Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengatakan kebijakan AS tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap produk baja, karena komoditas itu telah dikenakan BMAD sejak beberapa tahun terakhir. Namun dampaknya lebih dialami produk aluminium. Bea masuk aluminium oleh AS kemungkinan sedikit mempengaruhi ekspor aluminium Indonesia karena nilai ekspornya pada 2017 sukup signifikan yaitu mencapai US$210 juta. Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan kebijakan AS terhadap pengenaan bea impor akan memicu perang dagang. Negara eksportir juga berpotensi mengikuti kebijakan serupa saat menerima produk asal AS. Produsen baja pasti (mencari solusi) mau dibuang (ekspor) kemana produk baja dan aluminium. Kan Indonesia sedang industrilisasi juga. Jangan lupa, Indonesia juga sedang diserang baja dari China.( Bisnis Indonesia Kamis, 08 Maret 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved