PEMERINTAH SIAPKAN JURUS MENGAHADAPI IMPOR BAJA DARI CHINA.

Cinque Terre

PEMERINTAH SIAPKAN JURUS MENGAHADAPI IMPOR BAJA DARI CHINA.

Kementerian Perindustrian tengah mengkaji sejumlah langkah untuk mengantisipasi peningkatan impor baja China yang diperkirakan terjadi setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan penetapan tarif im

Negeri Paman Sam akan menerapkan tarif bea masuk untuk impor baja sebesar 25%, selain baja, Pemerintah AS juga akan memasang tarif bea masuk untuk aluminimum sebesar 10%. Harjanto, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin, mengatakan kebijakan Pemerintah AS tersebut akan memaksa  produsen baja China mengalihkan ekspor ke negara lain , termasuk Indonesia. Oleh karena itu Kemenperin mengkaji bebrapa upaya untuk menekan impor baja China. Salah satunya mengenai Permendag 22/2018 (tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan, dan Produk Turunannya), kami akan mencoba membangun database sebagai guideline ke Kemendag apa saja produk baja yang sudah diproduksi dalam negeri, mana yang masih kurang dan mana yang boleh impor,”katanya di Cilegon, Senin (5/3).

  Upaya kedua adlah pencegahan pelarian tarif atau kode HS baja paduan. Selama ini produsen baja China banyak menggunakan celah bea masuk baja paduan sebesar 0% untuk memasukkan produk baja karbon ke Indonesia yang dilapisi dengan boron atau kromium. Langkahnya apa untuk menghidari ini, akan dibicarakan dengan Kementerian dan lembaga terkait karena impor baja paduan meningkat luar biasa. Baja paduan ini kan untuk otomotif dan alat berat, tetapi aplikasi dipakai untuk konstruksi dan sebagainya,” tegas Harjanto. Selain kedua upaya tersebut, Harjanto juga menyebutkan Kemenperin berencana menerapkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN)  untuk produk baja.Dengan demikian pabrikan baja dengan produk tanpa sertifikat TKDN tidak dapat mengikuti tender. Itu pemikiran yang ada sekarang ini, perlu dukungan kementerian  dan lembaga lain serta industri untuk menekan impor baja.

  Sebelumnya Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (IISIA), mengatkan impor China ke negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dikhawatirkan meningkat sebagai dampak kebijakan Pemerintah AS untuk mengenakan tarip bea masuk impor baja. Pasti nanti masuknya (ke Indonesia) lewat baja paduan  karena untuk carbon steel kan masih kena bea masuk anti dumping. Mereka akan menggunakan pelarian HS, ‘katanya. Saat ini alokasi Ekspor China ke negara-negara Asean sedang menurun cukup tajam karena Pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut mengutamakan kebutuhan domestik seiring dengan perbaikan ekonomi dalam negeri dan pengurangan pabrik baja yang tidak ramah lingkungan.

  Purwono, yang juga menjabat sebagai Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Tbk, ini menyatakan permintaan baja ke perseroan pun meningkat sebagai imbas dari pengurangan alokasi ekspor tersebut. DI Krakatau Steel permintaan HRC yang tiap bulan 100.000 ton, sekarang naik sekitar 30%. Banyak yang minta baja ke pabrikan lokal setelah baja impor dari China sekarang sedang susah didapat. Sementara itu, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, menuturkan perseroan tidak akan berdampak secara langsung oleh kebijakan pemerintah AS tersebut karena 91% produksi aluminium ditunjukan untuk pasar dalam negeri, sedangkan sisanya sebesar 9% diekspor keluar negeri. ( Bisnis Indonesia Selasa, 6 Maret 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved