INDONESIA TEANCAM DIBANJIRI PRODUK BAJA IMPOR

Cinque Terre

INDONESIA TEANCAM DIBANJIRI PRODUK BAJA IMPOR

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor baja hingga 25% dinilai akan berdampak pada negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Hidayat Triseputro, menilai kebijakan Amerika Serikat  menaikkan tarif import baja sebenarnya wajar, sebab harga baja terutama dari China sangat murah. Tidak hanya Amerika Serikat, seluruh dunia mengalami masalah yang sama, termasuk Indonesia,” kata Hidayat kepada Kumpulan Bisnis, Minggu (4/3). Namun yang jadi persoalan, saat Amerika menaikkan tarif impor, pemerintah Indonesia malah melonggarkan kebijakan impor bajamelalu Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 tahun 2018 tentang ketentuan impor besi atau baja, baja paduan, dan produk turunannnya.

  Menurut dia, setelah pasar China ke Amerika Serikat dihambat dengan adanya kenaikan tarif impor, maka produk baja dari Negeri Tirai Bambu tersebut berpotensi akan dialihkan ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Potensi banjir impor akan terjadi jika regulasi pengamanan industri baja nasional tidak segera direvie dan diperbaiki. Kebijakan Presiden Donald Trump tersebut memang akan berpengaruh bagi produsen utama baja di dunia. Adapun exportir terbesar ke AS selama ini adalah Kanada, (16,7%), Brasil (13.2%), Korea Selatan (9,7%), Meksiko (9,4%), dan Rusia(8,1%), sementara China berada di posisi 9 dengan porsi 2.,9%. Namun, China tetaplah menjadi produsen baja terbesar. Data World Steel Association pada 2017 mencatat produksi baja China mencapai 831,7 juta metrik ton. Sebagian  besarnya digunakan di dalam negeri, sementara porsi yang diekspor juga masih terbesar di dunia yakni 95 juta ton. ( Kumpulan Bisnis Minggu, 04 Maret 2018) Sal-Sekretariat IISA

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved