PENJUALAN BAJA DALAM NEGERI BERPELUANG NAIK.

Cinque Terre

PENJUALAN BAJA DALAM NEGERI BERPELUANG NAIK.

Produksi baja lokal belum memenuhi kebutuhan dalam negeri

Kebutuhan baja sebagai bahan dasar industri setiap tahun terus meningkat. Alhasil, produsen baja dalam negeri berusaha memasang target  memaksimalkan produksi mereka.  Menurut The Indonesian Iron and Steel Industry Association /IISIA permintaan baja di dalam negeri pada tahun 2018 diperkirakan menembus angka 14,5 juta ton.  Permintaan itu lebih tinggi 7% dibandingkan dengan ekspektasi permintaan tahun ini sebanyak 13,5 juta ton. Sekretaris perusahaan PT Krakatau Steel Tbk Suriadi Arif optimis, penjualan baja perusahaan plat merah itu masih bisa naik  sekitar 40%, menjadi 2,8 juta ton pada tahun ini. Salah satu upaya  mencapai target pertumbuhan itu dengan memperbanyak kontrak suplai jangka panjang alias long term supply agreement dengan beberapa pembeli. Tentunya berimplikasi positif terhadap kenerja keuangan dan kami optimistis tahun ini akan meraih laba,” kata Suriadi kepada KONTAN, Rabu (28/2).

  Menurutnya, sektor utama pendorong seimbang proporsi pembeli baja perusahaan adalah perusahaan yang bergerak di bisnis minyak, gas serta infrastruktur, Baik swasta maupun pemerintah seimbang. Direktur Utama PT Krakatau Steel  Mas Wigrantoro Roes Setyadi pernah menyebut Krakatau Steel siap memenuhi kebutuhan pipa migas di tahun 2019 mendatang. Terlebih jika nanti pabrik baja lembar panas ke-2 (hot strip mill/HSM#2) beroperasi maksimal. Kami akan menggandeng PT KHI Pipe Industries dan PT Krakatau Posco untuk mendukung kerja sama suplai pipa baja minyak dan gas,” tambah Mas Wigrantoro.

  Sebagai catatan, PT KHI Pipe Industries, anak usaha Krakatau Steel di tahun 2017 memiliki kapasitas produksi  pipa baja untuk migas sejumlah 34.654 t0n dengan penjualan sebesar 27.392 ton. Sedangkan untuk keperluan pengawasan proyek, pemerintah menunjuk PT Krakatau Engineering yang memiliki kompetensi dalam project Management. Sementara itu, Vice President Corporate & External Affairs PT BlueScope Indonesia Rhea Sianipar menjelaskan, kapasitas produksi baja saat ini sekitar 250.000 metrik ton per tahun. Sementara kebutuhan coated steel diIndonesia sekitar 1,6 juta ton per tahun. Dari sisi kapasitas pabrik kami adalah yang terbesar, tapisecara kapasitas kami belum maksimal, sehingga masih ada opportunity besar untuk kami meningkatkan market share kami,” katanya kepada KONTAN, Rabu )28/2).

  PT NS BlueScope Indonesia memproduksi produk baja lapis aluminium seng atau BJLAS bare ( tanpa warna) dan painted (berwarna) sebanyak 250.000 ton per tahun. Target sgmen BlueScope adalah sektor konstruksi untuk pasar proyek dan ritel. Rhea menjelaskan tentang perusahaan ke depan masih cukup besar lantaran tahun 2018 dan 2019 adalah tahun Pemilu. Kenyataan ini  kemungkinan akan berdampak terhadap penundaan  atau perlambatan beberapa proyek yang berjalan. Penanaman modal asing  langsung alias foreign direct investment dan penanaman dalam negeri juga bisa melambat. Tapi hasil studi kami memperlihatkan sektor ritel masih bertumbuh, sehingga menjadi oppotunity besar untuk kami mendorong  ritel bisnis kami.

  Sebelumnya, Direktur Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) mengatakan, baja adalah komoditas internasional. Maka harga baja internasional sangat berpengaruh terhadap industri domestik. Apalagi di tahun 2018 ini masih ada tren kenaikan harga yang sama seperti tahun 2017. Jika dibandingkan diakhir 2017. Hadi memperkirakan kenaikan harga baja mencapai 2%-3%. Melihat hal ini, GDST belum berani memprediksi pertumbuhan bisnis sektor bajadi Indonesia saat ini.Target konservatif. Harapannya tahun 2018 sama realisasinya 2017. ( KONTAN Kamis, 1 Maret 2018) Sal-Sekretariat IISIA.

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved