INDUSTRI LOGAM DASAR TERGANJAL ONGKOS PRODUKSI

Cinque Terre

INDUSTRI LOGAM DASAR TERGANJAL ONGKOS PRODUKSI

Pengembangan industri logam dasar terganjal tingginya ongkos produksi dan pasokan bahan baku yang banyak berasal dari luar

I Made Tangkas, Kettua Komite Tetap Industri Logam, Mesin, dan  Alat Transportasi ( Darat, Laut dan Udara) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, mengatakan, mengatakan pengembangan logam dasar menandai hilirisasi mineral tambang berjalan dengan baik. Tanpa adanya industri manufaktur berbasis mineral logsm., hilirisasi mineral tambang tidak akan memberikan nilai tambah yang tinggi. Pertumbuhan industri logam masih terhambat oleh biaya produksi dan bahan baku impor. Biaya produksi industri logam dasar tertekan oleh harga gas di Indonesia yang mencapai US$9,5 per MMBTU. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara kawasan Asia lain yang menawarkan gas di kisaran  US$6,3 per MMBTU. Indonesia memiliki potensi yang tinggi dalam pengembangan industri hilir, termasuk industri baja. Industri ini tumbuh rata-rata 6% per tahun sampai 2025, salah satunya berkat permintaan bahan baku yang tinggi untuk sektor konstruksi dan otomotif yang tumbuh sebesar 8,5% dan 9,5%. Indonesia masih harus mengimpor 5,4 juta ton untuk memenuhi kbutuhan yang mencapai 12,94 juta per tahun.

Pada kesempatan yang sama, pabrikan baja menilai permasalahan utama industri baja nasional adalah ketiadaan sektor pendorong. Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (IISIA) mengatakan di Wilayah Asia Tenggara, produk baja nasional  masih kalah dibandingkan Vietnam dan Thailand. Padahal, sebelum krisis moneter 1998, Indonesia memimpin pasar Asean. Industri baja Indonesia  ada masalah konsumsi baja, masih berkembang tetapi tidak bisa tinggi karena hanya berbasis pada GDP growth. Tidak ada pendorong untuk melompat. Purwono mencontohkan saat ini Vietnam bisa memproduksi  baja sebesar 22 juta ton per tahun dengan sektor konstruksi sebagai penyerap utama. Negara Asia lain seperti Jepang dan Korea Selatan memiliki sektor pendorong dari otomotif dan galangan kapal.

Kemarin otomotif ada potensi, tetapi domestik kemarin agak menurun. Galangan kapal juga belum  bisa jadi pendorong karena sistemnya masih menunggu pesanan, bukan untuk ekspor.Menurutnya kunci sektor pendorong industri baja memerlukan  permintaan yang berkelanjutan atau tidak berhenti  setelah proyek rampung. Selama pemerintah dan pelaku industri belum bisa menentukan sektor yang akan menjadi penggerak. Purwono memperkirakan industri baja nasional masih dapat berkembang , tapi hanya berkisar di level 5%. ( Bisnis Indonesia Kamis, 08 Februari 2018) Sal-Sekretariat IISIA

 

 

 

 

 

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved