IMPOR BAJA LAPIS PUKUL PABRIKAN BAJA DOMESTIK

Cinque Terre

IMPOR BAJA LAPIS PUKUL PABRIKAN BAJA DOMESTIK

Pabrikan baja lapis berharap pemerintah dapat memberi perlindungan bagi produsen dalam negeri yang terpukul oleh gempuran produk impor.

Pabrikan baja lapis berharap pemerintah dapat memberi perlindungan bagi produsen dalam negeri yang terpukul oleh gempuran produk impor. Simon Linge, Presiden Direktur PT NS BlueScope Asean, mengatakan kendati permintaan baja lapis meningkat hingga mencapai 1,3 juta ton per tahun, saat produk impor lebih banyak mendominasi. Pada 2016 misalnya, pangsa pasar baja lapis impor mencapai 53%. Kami sebagai produsen baja lapis meminta bantuan pemerintah karena banyak produk baja lapis yang masuk tidak memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Mereka juga masuk dengan harga dumping yang lebih murah dari harga di negara asal,” ujarnya di komplek pabrik BlueScope Cilegon, Selasa (31/1).

  Sebagai informasi, dalam aturan SNI 4096:2007 tentang Baja Lembaran dan Gulungan Lapis Paduan Aluminium Seng, untuk baja ringan interior minimal memiliki material berlapis aluminium seng AZ 50, sedangkan untuk baja ringan untuk interior minimal menggunakan material berlapis AZ 70. BlueScope telah mengajukan revisi SNI tersebut ke Kementerian Perindustrian agar minimal material berlapis yang digunakan untuk interior maupun eksterior material AZ 100. Dengan masih tingginya produk impor baja  lapis yang masuk ke Indonesia, Simon menyebutkan pihaknya belum ada rencana untuk meningkatkan kapasitas produksi. Kami ingin melihat perbaikan kebijakan industri baja di Indonesia dahulu, kami menunggu kebijakan yang bisa mendukung seluruh industri baja dari hulu hingga hilir. Komitmen penyerapan dari industri hilir juga menjadi faktor penting.

  Sally Dandel, VP Marketing  PT NS BlueScope  Indonesia, menambahkan kompentisi dengan produk impor yang memiliki harga dan kualitas rendah, menjadi tantangan terbesar bagi perseroan. Dari data yang dimiliki  BlueScope, sejak Oktober 2015 produk baja dengan lapisan di bawal AZ50 meningkat hampir 300%. Hal ini bertentangan dengan uji coba yang dilakukan perseroan bahwa untuk membuat rangka baja atau penutup baja tidak dianjurkan menggunakan material berlapis di bawah AZ 70. Jika ini tidak dikontrol dapat mendistorsi masyarakat. Masyarakat ingin mendapatkan produk dengan harga rendah. Sehingga tidak memperhatikan kualitas.

  Saat ini BlueScope berupaya memperkuat penetrasi di pasar ritel mamalui produk BlueScope ZACS karena segmen pasar ini menjadi target utama dari produk impor. Menurutnya, penting untuk memastikan masyarakat memahami produk baja lapis yang berkualias dan dan memiliki sertifikat SNI. Saat ini BlueScope memiliki kapasitas produksi sebesar 250.000 ton per tahun dengan bahan baku berupa cold rolled coil ( CRC) atau baja lembaran dingin yang dipasok oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Eko Dumadi , Manager Corporate Communication Krakatau Steel, menyebutkan pihaknya memasok CRC sebanyak 10.000 ton per bulan untuk BlueScope, atau setara 1/6 dari kapasitas produksi perusahaan. Tahun lalu produksi CRC kami sebanyak 660.000 ton dan HRC 2 juta ton.  Emiten dengan ticker KRAS ini berkomitmen mendukung industri dalam negeri, baik hulu mapun hilir. ( Bisnis Indonesia Rabu, 31 Januari 2018 ) Sal-Sekretariat IISIA.

 

  

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved