PASOKAN BAJA DARI CHINA MENGALAMI PENURUNAN

Cinque Terre

PASOKAN BAJA DARI CHINA MENGALAMI PENURUNAN

Pasokan baja dari China selaku produsen utama dunia mengalami penurunan pada periode November 2017, sehingga secara langsung mendorong potensi kenaikan harga pada komoditas logam itu.

Pasokan baja dari China selaku produsen utama dunia mengalami penurunan pada periode November 2017, sehingga secara langsung mendorong potensi kenaikan harga pada komoditas logam itu. Berdasarkan data dari Badan Statistik/ National Bureau of Statistik (NBS) China, pabrik-pabrik di negeri di tirau bambu telah memproduksi 66.15 juta ton baja pada November 2017, atau turun hingga 8,6% dari bulan sebelumnya yang mencacat output 72,4 juta ton. ngka tersebut merupakan level terendah sejak Februari 2017 lalu. Sementara tran secara Month on Month (MOM), produksi baja dari Januari-November pada tahun ini masih lebih tinggi dari periode yang sama dari tahun lalu, dimana pasokan baja telah bertambah 5,7% menjadi 764,8 juta ton.

Kelebihan pasokan di pasar dunia memang menjadi masalah di perdagangan baja global belakangan ini, kendati tidak memberi tekanan yang signifikan terhadap harga baja di pasar derivatif. Seperti yang telah dibahas dalam forum global yang diadakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 30 November 2017 lalu, kelebihan pasokan telah menjadi persoalan yang diperbincangkan. namun diprediksi harga baja masih berada di zona yang positif  dengan pertumbuhan cukup tinggi sepanjang tahun berjalan. Liu Zhenjiang, Skretaris Jenderal Asosiasi Besi dan Baja China mengatakan bahwa negeri tembok raksasa akan terus menerapkan kebijakan kontrol produksi baja pada tahun depan untuk menghindari kelebihan pasokan. Pemangkasan oleh produsen utama baja dunia dipercaya bakal mampu memperbaiki pasar baja,karena kapasitasnya akan berkurang dari sebelumnya. Sementara permintaan baja pada tahun depan tidak akan melemah." kata Zhenjiang. China, yang memproduksi baja hingga setengah dari jumlah produksi dunia mengurangi produksi sebagai upaya  membatasi kapasitas yang membengkak dan mengurangi polusi industri selama musim dingin. Presiden Xi Jinping  diketahui getol berupanya mengurangi surplus kapasitas industri logam dlam negeri dengan membatasi produksi, pasalnya, penyusunan produksi itu menekan jumlah pasokan dari rekor yang tertingginya, setelah pemerintah menutup pabrik komonditas itu pada awal tahun ini.

Belakangan ini pemerintah China menutup sejumlah pabrik peleburan untuk merealisasikan upaya mengurangi polusi udara dampak industri yang dilakukan hingga Maret tahun depan. tercatat,  pada penutupan perdagangan Senin (19/12) harga baja hot rolled sheet menguat 6,01 poin atau 1,04% menjadi 3.855,92 yuan atau US$592,72 per ton. Sepanjang tahun berjalan, harga baja tumbuh hingga 43,43% secara year  of date (yrd). Lebih lanjut, Li Shubing, Sekretaris Jenderal China Association of Metal Scap Ultization mengatakan bahwa pasokan baja China akan memenuhi permintaan  sekitar 20 juta ton pada 2020.  Adapaun ekspor baja scap atau besi tua melonjak  dalam beberapa bulan terakhir, sementara China mempertahankan tarif ekspor sebesar 40%. Harga baja diperkirakan tidak akan merosot pada kuartal I/2018 di tengah meningkatnya permintaan dari pabrik baja. Menurut konsensus Bloomberg, harga baja akan mencapai USS$615,84 ( 4.075,63 yuan) per ton pada kuartal IV/2017 ini. Sementara pada kuartal I/2018, harga akan menguat hingga US$650,33 (4.303,88 yaun) per ton.  ( Bisnis Indonesia, Rabu, 20 Desember 2017) Sal-Sekretariat IISIA 

 

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved