BEA MASUK ANTI DUMPING BISA PICU IMPOR

Cinque Terre

BEA MASUK ANTI DUMPING BISA PICU IMPOR

Rencana penerapan bea masuk anti dumping untuk produk steel wire rod atau kawat baja oleh Indonesia dikhawatirkan industri hilir domestik bakal mendorong peningkatan impor produk jadi asal China.

Rencana penerapan bea masuk anti dumping untuk produk steel wire rod atau kawat baja oleh Indonesia dikhawatirkan industri hilir domestik bakal mendorong peningkatan impor produk jadi asal China. Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Produk Kawat Baja ( GIPKAHI) Sindu Prawira menilai rekomendasi yang dikeluarkan oleh Komite Anting Dumping Indonesia (KADI) untuk mengenakan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap kawat baja sebesar 10% hingga 13,5% bakal menggerus daya saing hasil produki domestik. Pasalnya, harga bahan baku  berkontribusi 70% terhadap struktur harga produk jadi yang dihasilkan oleh industri. Sindu menjelaskan bahan baku kawat baja digunakan untuk memproduksi beberapa produk jadi  seperti kawat, baut, dan mur. Dengan adanya pengenaan BMAD, akan terjadi kenaikan harga hingga 10%. Kondisi tersebut akan membuat hasil produksi domestik sulit bersaing dengan barang dari China yang menawarkan harga lebih murah. Saat ini, impor dari Negeri Panda mencapai 600.000 ton. 

Jadi dengan penerapan BMAD impor bisa meningkat 100%  atau menembus 1,2 juta ton untuk produk kawat, mur dan baut," ujarnya saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (13/12). Ketua GIPKABI Ario N. Setiantoro menilai rencana penerapan BMAD tidak tepat mengingat produsen hulu kawat baja belum mampu memnuhi kebutuhan industri hilir. Hal itu menyangkut kualitas dan konsistensi ketersediaan pasokan Ario menyebut terjadi devisit sebanyak 1 juta ton dari kebutuhan industri hilir dan pasokan dari produsen kawat baja domestik. Oleh karena itu, saat ini bahan baku masih harus dipenuhi melalui impor. Dia menyatakan pemberlakuan BMAD kawat baja merupakan tindakan proteksi yang berlebihan. Pasalnya, terhadap aturan larangan dan pembatasan yang ditetapkan oleh pemerintah serta safeguard yang telah berjalan dalam 2 tahun belakangan. Sementara itu, Regional Purchasing Direktor Bekaert Singapore Pte.Ltd, Tony Harjadi menyatakan perseroan kerap mendapatkan masalah saat menggunakan kawat baja  produksi domestik. Rejection Rate  setiap pembelian bahan baku tersebut dari industri hulu di dalam negeri mencapai 50%. (Bisnis Indonesia, Kamis , 14 Desember 2017) Sal-Sekretariat IISIA

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved