TAMBAHAN KLASTER BAJA DI BATU LICIN, KALIMANTAN SELATAN

Cinque Terre

TAMBAHAN KLASTER BAJA DI BATU LICIN, KALIMANTAN SELATAN

Klaster baja Cilegon bakal memproduksi 10 juta ton baja karbon pada 2025, sedangkan klaster Morowali memproduksi stainless steel sebesar 3,5 juta ton pada 2020

Indonesia akan memiliki satu tambahan klaster baja di Batu Licin, Kalimantan Selatan. Proyek ini akan menambah pasokan baja yang sebelumnya disiapkan dari dua klaster lain, yaitu Cilegon dan Marowali. Klaster baja Cilegon bakal  memproduksi 10 juta ton baja karbon pada tahun 2025, sedangkan klaster Morowali memproduksi stainless steel sebesar 3,5 juta ton pada 2020. Kemarin sudah ditanda tangan MoU untuk membangun klaster baja 3 juta ton di Batu Licin.” Ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartato, Senin (11/12). Sepanjang tahun lalu konsumsi baja  tercatat sebesar 12,7 juta ton. Produsen dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan crude steel sebesar 6,8 juta ton, sisanya dipasok dari impor.

Kebijakan pemerintah  yang saat ini fokus dalam membangun infrstruktur mendorong permintaan baja hingga mencapai 21,4 juta ton pada 2025. Pada kesempatan yang sama, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerin Perindustrian Harjantomengatakan pembangunan kluster baja tersebut rencananya dilakukan oleh investor asal China Shenwa Tecnology  Group  Crpo. CO, Ltd. Menggandeng patner lokal, yaitu PT Gunung Garuda . Setelah penandatangan kesepahaman, keduanya akan mempelajari dulu potensi yang ada di Batu Licin.

  Menurutnya, di wilayah tersebut, terdapat batu bara dan pasir besi yang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan hasil impor. Investor asal China tersebut memiliki teknologi yang dapat memanfaatkan batu bara dan pasir besi low rank. Mereka mau berinvestasi karena potensi pasar di Asean dan di Indonesia masih besar.. Produknya nanti carbon steel, kami harap bisa sampaiproduk hilir,’ ujarnya. Terkait dengan investasi, Harjanto tidak menyebutkan  secara past. Namun, dia menggambarkan investasi Krakatau Posco  untuk pabrik baja dan pembangkit Listrik mencapai sekitar US$ 4 miliar. Adapun investasi di Morowali mencapai sekitar US$900 juta dengan pembangkit listrik senilai US$700 juta. Tergantung infrastruktur dan tehnologi yang mereka gunakan. Dapat tertakar investasinya berapa dengan kapasitas 3 juta ton.

 

   Sementara itu, Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Produkct IISIA menyambut baik rencana rencana pembangunan klaster baja tersebut. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pemasaran  PT Krakatau Steel ( Persero) Tbk. Ini mengatakan perseroan memiliki anak usaha yang berada di Batu Licin, yaitu Meratus Jaya Iron &Steel. Namun, karena kendala operasional, maka perusahaan ini berhenti beroperasi hingga sekarang. Pada perkembanganterpisah, produsen baja ringan merespon positif rencana penngenaan bea masuk antidumping terhadap produk baja lapis aluminium seng warna impor asal China dan Vietnam. Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng Asosiasi Industri Besi dan baja Indonesia ( The Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) Henry Setiawan menyatakan proktik dumping telah memukul utilisasi pabrikan dalam beberapa tahun terakhir. Bukti adan unfair trade sangat kuat, sehingga ada yang mengajukan petisi antidumping karena mengalami injury,”ujarnya.  ( Bisnis Indonesia,  Selasa, 12 Desember 2017) Sal-Sekreatiat IISIA   

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved