PRO & KONTRA BMAD WIRE ROD BERLANJUT

Cinque Terre

PRO & KONTRA BMAD WIRE ROD BERLANJUT

Pabrikan baja hulu dan hilir beda sikap terkait dengan pengenaan bea masuk antidumping terhadap produk baja wire rod sebesar 10%-13,5%

Penetapan BMAD tersebut kini tinggal menunggu  hasil kesepakatan Tim Pertimbangan  Kepentingan Nasional dalam waktu dekat.  Pengenaan bea masuk sntidumping steel wire rod itu memang menuai pro dan kontra. Industri hulu dan hilir pandangan yang berbeda,” ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian  Harjanto kepada Bisnis , Kamis (7/12). Menurutnya, pengenaan BMAD terhadap steel wire rod bakal berdampak langsung terhadap kenaikan biaya industri baja hilir. Sebab kawat baja merupakan salah satu kebutuhan bahan baku pabrikan dengan volume impor yang cukup  tinggi. Sebaliknya, kebijakan tarif bakal mendorong  kenaikan angka penyerapan bahan baku wire rod buatan pabrikan hulu domestik.  Meski mengorbankan daya saing pabrikan hilir.

   Tapi memang Komite Antidumping itu positif menemukan unfair trading practices pada steel wire rod. Itu sudah menjadi salah satu fakta penyelidikan,” ujarnya. Harjanto menyatakan kajian tersebut  sudah memperhitungkan data keseimbangan pasokan  dan permintaan industri baja secara menyeluruh. Di samping  itu, penyelidikan turut menganalisasi dampak kenaikan biaya dan manfaat pengenaan BMAD bagi industri baja. Tapi nanti tinggal menunggu bagaimana hasil pengambilan keputusan akhir tim pertimbangan. Penyelidikan terhadap dugaan damping wire rod bermula takala dua pabrikan baja hulu domesti, yakni Ispat Indo dan Master Steel, mengajukan petitioner antidumping kepada Komite Antidumping Indonesia  pada 31 Agustus  tahun lalu. Per 1 Desember lalu, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) meromendasikan pengenaan bea masuk antidumping terhadap seluruh produk kawat baja kepada Menteri Perdagangan  yang berlaku selama 5 tahun ke depan.

  Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Baja Indonesia Hidayat Triseputro menyatakan dalam pratiknya pasar wire rod domestik dibanjiri produk impor asal China dalam beberapa tahun terakhir.. Pabrikan baja hulu domestik akhirnya menurunkan produksi lantaran daya saing produknya terkikis kawat baja impor. Satu hal yang kami sarankan kepada pemerintah adalah berikan safeguard juga terhadap produk jadi impor agar semua win-win. Kata kuncinya adalah harmonisasi tarif-tarif hulu sampe hilir supaya tidak ada yang merasa ditinggalkan.

  Gabungan Industri Produk Kawat Baja Indonesia berharap pemerintah mempertimbangkan kembali dampak pengenaan bea masuk antidumping yang digulirkan KADI.Wakil Ketua Umum GIPKABI Sindu Prawira menyatakan fakta dugaan dumping kawat baja tidak lagi relevan lantaran pabrikan hulu domestik tak mampu memproduksi kawat baja dengan spesifikasi tertentu. Industri hilir mengandalkan pasokan  steel wire rod impor untuk berbagai aplikasi, termasuk pembuatan scup, mur, baut dan kawat seng. Penyelidikan KADI menggunakan asumsi-asumsi yang keliru. Maka kami memohon agar pemerintah menolak rekomendasi BMAD tersebut. (Bisnis Indonesia Jum’at, 8 Desember 2017) Sal-Sekretariat IISIA

 

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved