Peningkatan daya saing industri baja dalam negeri

Cinque Terre

Peningkatan daya saing industri baja dalam negeri

MErger & Akuisisi bisa menjadi opsi peningkatan daya saing industri baja didalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia ( The Indonesian Iron and Steel Industry Association / IISIA) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan peningkatan kapasitas produksi merupakan salah satu tantangan bagi pengembangan industri baja di dalam negeri. Tak sedikit perusahaan baja yang beroperasi di Indonesia memiliki kapasitas produksi yang relatif rendah dan tersebar pada berbagai wilayah. Akibatnya, skala bisnisnya menjadi tidak ekonomis. Perusahaan baja itu economic scale-nya mesti besar, meskipun bisa didorong agar lebih banyak merger & acquisition,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

  Pemerintah, ujarnya, dapat mendorong dengan menetapkan regulasi tertentu. Menurutnya, Pemerintah China bahkan lebih konservatif mendorong integrasi pabrikan baja dengan menutup pabrik yang memiliki kapasitas di bawah 5 juta ton. Kalau terus-terusan berkala kecil akan kalah saing dengan impor. Meski didorong agar bisa saling konsolidasi satu sama lain menjadi besar dan skala bisnisnya menjadi ekonomis,” ujarnya. Mas Wigrantoro berharap pemerintah mendorong agar pabrikan mengintegrasikan lini bisnis dari hulu hingga ke hilir. Dengan demikian, industri dapat meningkatkan daya saing secara kumulatif.

  Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan pemerintah akan terus menggenjot investasi masuk ke pabrik baja yang saat ini masih memiliki kapasitas produksi kecil.  Mengenai merger atau akusisi pabrikan baja yang kecil (kapasitas produksinya) belum tahu detailnya, nanti akan dipelajari terlebih dahulu, ujarnya. Pemerintah akan melihat sejauh mana batasan intervensi yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan kapasitas produksi. Berbicara mengenai pasokan baja, Putu mengatakan pada tahun depan proyek pabrik baja karbon di Kawasan Industri Morowali akan mulai di bangun. Saat beroperasi  pada 2010, kapasitas produksi pabrik ini akan mencapai 3,5 juta ton dan dapat meningkatkan pasokan baja ke dalam negeri.

  Pengerjaan infrastruktur yang masih mengerek pertumbuhan kebutuhan baja. Tahun lalu, realisasi permintaan baja nasional mencapai 12,67 juta ton. Salah satu tantangan bagi pabrikan baja domestik adalah devisit kapasitas untuk memasok seluruh permintaan karena kapasitas terpasang industri baja di dalam negeri masih jauh di bawah angka permintaan. Hasilnya separuh permintaan nasional pada tahun lalu dipenuhi dari impor. Permintaan baja pada tahun ini diperkirakan mencapai 13,5 juta ton, naik 7% lebih tinggi dari permintaan pada tahun lalu.

 

 

© 2016 The Indonesian Iron & Steel Association | All rights reserved